Kamis, 30 Agustus 2012

GUNUNGAN KETUPAT

TRADISI GUNUNGAN KETUPAT

      Gunungan yang terbuat dari hasil bumi, mungkin sudah lazim dan sering kita saksikan di kota Jogya yang kita cintai. Tapi jika yang dikirap atau gunungan terbuat dari kupat tergolong langka, apalagi tradisi ini dilakukan didaerah perkotaan. Sebagai rangkaian dari memeriahkan usai lebaran, di kampung Wisata Budaya Pandeyan Umbulharjo jogjakarta menggelar tradisi ini atau sering disebut “Ba’do Kupat”. Tradisi ini dilakukan dengan cara mengarak gunungan yang terbuat dari kupat yang dikawal bregodo prajurit lombok abang serta diiringi berbagai kesenian barongsai, jatilan dan juga musik tradisional gejog lesung. Seperti pada gunungan2 umumnya, setelah dikirab keliling gunungan “Ketupat” lantas didoakan dan diperebutkan oleh warga.
      Tradisi yang mulai digelar pertama pada tahun 2011, juga sekaligus untuk merti dusun atau kampung ini biasanya dilakukan 7 hari setelah Hari Raya Idul Fitri dan akan menjadi even tahunan di Kampung Pandeyan Umbulharjo. Dan dengan kekuatan budaya yang dimiliki ini diharapkan di Kelurahan Pandeyan dapat berdampak positif terutama bagi peninkatan kesejahteraan warga yang sebagaian warga Pandeyan berprofesi sebagai pengayuh becak wisatawan. Oleh karena itu seluruh potensi budaya turut ditampilkan dalam kirab Ba’do Kupat ini, sehingga yang menyaksikan baik warga maupun wisatawan dapat memunculkan kesadaran untuk ikut uri-uri kebudayaan.
      Tujuan utama kirab gunungan kupat ini sebenarnya untuk kebersamaan masyarakat Pandeyan, makanya diakhir kirab ini ada kenduri atau kembulan atau juga makan bersama tanpa memandang status sosia, semua warga jadi satu dan saling maaf memaafkan dan mensyukuri dengan rejeki yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

0 komentar:

Posting Komentar